Archive for the ‘catatan harian seorang ayah’ Category

Tulisan ke-3 di tahun ini yg dimuat


Bila menilik sejarah, SMK adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan Indonesia. Dulu, namanya disesuaikan dengan jurusan yang ada. Semisal STM (Sekolah Teknologi Menengah), SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas), SMM (Sekolah Menengah Musik) dan lain-lain. Saat ini diseragamkan dengan nama Sekolah Menengah Kejuruan. Memiliki ratusan “jurusan” yang identik dengan kebutuhan industri. Hingga awal 2000-an masih terdapat stempel yang kurang mengenakkan bagi SMK. Yaitu sekolah nomor dua. Dimana siswa hanya masuk SMK bila tidak diterima di bangku SMA. Tapi roda berputar. Saat ini SMK bisa dibilang sejajar bahkan menjadi pilihan utama mengungguli SMA di hati para lulusan SMP.

SMK DAN PERDAGANGAN BEBAS
Indonesia sebagai raksasa di Asia Tenggara turut memprakarsai lahirnya CAFTA (China-ASEAN Free Trade Agreement) yang mulai diterapkan bertahap sejak 2003. Dus, kita baru menyadarinya dengan gelagapan pada awal 2010-an. Dimana CAFTA menjadi gelombang pasang perdagangan bebas diantara komunitas China-ASEAN. Derasnya laju industri membutuhkan banyak skill-worker. SMK diharapkan mampu menyuplai tenaga kerja terampil tersebut. Di tengah upaya untuk berevolusi, SMK selalu menjadi andalan untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kerja front-line. Tak heran, pendirian SMK menjamur dimana-mana. Fokusnya, pemerintah menginginkan prosentase SMA-SMK yang semula 70%-30% menjadi 30%-70%. Tak ketinggalan di wilayah Jawa Timur. (more…)

Advertisements

Ini adalah resensi buku saya yang ditulis oleh seorang kawan dari Sidoarjo. Teman MGMP yang juga suka menulis. Bahkan bukunya lebih banyak dari saya, hehe. Terimakasih buat Cak Yudhi yang sudi meresensi buku saya. Ini tulisan lengkapnya:

Identitas Buku
Judul buku : MUDAH MEMBUAT PRESENTASI PEMBELAJARAN
Penulis : Ahya Alimuddin, S.Pd
Penerbit : Diandra Kreatif
Cetakan : Pertama, Januari 2018
Tebal : 134 halaman
ISBN : 978-602-336-586-9

Cover Belakang Buku Pertama Saya

Belum lama berselang, dunia pendidikan digemparkan dengan meninggalnya seorang guru dari pulau garam. Ada baiknya kita mengambil hikmah dari peristiwa ini. Bisa jadi guru yang kurang menarik saat menyampaikan materi. Salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan membuat presentasi pembelajaran yang menarik. Mas Ahya berbagi pengalamannya membuat media pembelajaran yang menarik dalam bukunya.
Buku ini diselingi dengan kata-kata motivasi. Contohnya di halaman 3, “Bagikan ilmu walau sedikit, yakinlah ilmumu akan bertambah dan tidak akan pernah berkurang (Ali Bin AbiThalib).”
(more…)

Guru Jaman Now

Posted: November 22, 2017 in catatan harian seorang ayah

Guru Old…saya (sebelah kiri) 7 tahun lalu


Saya masih ingat betul sosok guru Matematika saya ketika SD. Namanya Pak Badri. Perawakannya gembul, pendek, lucu. Beliau, seingat saya, jarang membawa buku ke kelas. Jika mengajar, enak saja beliau menulis di papan hingga penuh. Hapal betul guru ini, batin saya. Menerangkan pun sama saja, tanpa teks. Belasan rumus Matematika seperti berhambur begitu saja dari mulut beliau. Ceramah adalah satu-satunya cara beliau mentransfer ilmu. Tidak ada metode lain. Kayaknya saat itu belum jamannya guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hehe. (more…)

Halan-halan dulu,,,


Saya mengenal laman ini sekitar 3 tahun lalu – cukup terlambat memang mengingat ternyata sudah ada sejak 2011, ketika seorang teman meng-share Rumah Belajar di laman Facebooknya. Saya yang waktu itu lebih banyak membuka Facebook daripada web pendidikan, hehe, tertarik. Tertarik pada namanya, ya, nama! Kekuatan nama saya kira menjadi penting di era digitalisasi seperti sekarang, seperti pentingnya judul artikel bombastis pada portal berita abal-abal yang sepertinya lebih membutuhkan artikelnya di “klik” daripada di baca. Rumah Belajar, rumah yang pintar. Saya kunjungi portalnya yang waktu itu sepertinya masih di http//:belajar.kemdiknas.go.id, dan, saya akhirnya tenggelam menyelaminya. (more…)

Kesemutan

Posted: June 17, 2017 in catatan harian seorang ayah

Pulang traweh, ganti diganggu semut yang ini..

Rokaat pertama baru saja dimulai, “Aduhhhh….hhhh,” gumamku dalam hati sembari merinding.
Ruku pertama, ada sesuatu yang hidup merambat di tengkukku. Apalagi ini….
Meski hanya dua rokaat, tapi teraweh kali ini serasa sepanjang solat Isya. Apalagi imamnya tidak hanya membaca surat-surat pendek, tapi baca mushaf. Mana pas lagi tugas jadi bilal, mau ke kamar mandi ngelepas baju juga ndak mungkin. Akhirnya, selama 20 rokaat traweh pun menahan diri sambil berdoa, “Kuatkan tanganku untuk tidak menggaruk Ya Allah,” hehe. (more…)

Tomcat

Posted: December 17, 2016 in catatan harian seorang ayah

Korban tomcat sedang disuapin kakaknya…duh perhatiannya…

“Yah…tanganku sakit,” rajuk si Encha. Dia nunjukin lengan kanannya, terlihat melepuh, kecil, seperti kecipratan minyak.
“Gak papa, besok lak sembuh. Sini diolesi minyak tawon,” jawabku enteng sembari nonton tivi.
Sambil mapan bubu si enCha tetep sibuk liatin tangannya.
Eh lhadalah, keesokan paginya lha kok tambah mbendul, melebar, berisi cairan, bening. “Gatelll,” sambat murid Playgroup ini.
Kuamati, lukanya seperti bekas terbakar korek api, atau kenyonyok rokok. Melingkar sebesar uang logam seratusan, dengan warna merah di sekitarnya. (more…)

Ma bolo kurowo mesin SMKN 2 Jiwan


Saya baru beberapa tahun menjadi guru kejuruan di SMK. Kedua jari di tangan saya masih cukup untuk menghitung. Terbilang yunior dibanding teman-teman guru di sekolah saya. Akan tetapi saya juga bersemangat untuk menjadi guru produktif sepenuhnya. Yang benar-benar menguasai bidang produktif, terutama Pemesinan, bidang saya.
Tapi entah mengapa, niatan ini seringkali timbul tenggelam. Keseharian saya hanya disibukkan dengan administrasi mengajar yang tiada habisnya. Mulai dari merancang perangkat pembelajaran, melalui proses mengajar hingga kegiatan tugas tambahan.
Saya mendambakan adanya kumpulan guru produktif yang mampu menyuntik semangat saya untuk belajar lebih banyak. MGMP sebagai induk guru kejuruan sangat dibutuhkan, karena dengan berkumpul, maka akan terjadi sharing.
Tapi selama ini mati suri. (more…)